Pages

Minggu, 27 Maret 2011

[RELEASE]GemscoolCashGenerator [ Aplication For GM ]

Posted by at 01.55
Status : 100% Work [ untuk selamanya ]

ini adalah aplikasi untuk mendapatkan code voucher G-cash secara gratis, dan 100% Berhasil

Cara Penggunaan :
1. jalankan aplikasinya
2. masukkan password
3. tunggu sampai koneksi selesai
4. klik Generate [ nanti akan muncul Code Vouchernya ]
http://adf.ly/zNOH

Yang Mau Password Nya Silahkan DAFTAR di http://hackcashgemscool.tk/

Sabtu, 19 Maret 2011

Jangan bilang banci

Posted by at 02.04
Langit sangat cerah pada siang hari itu. Perasaan itulah yang menggambarkan suasana hati Lana sekarang. Seorang anak lelaki yang sering di sebut-sebut sebagai anak laki-laki yang kemayu. Lana sangat gembira pada saat ia menerima piala dari gurunya, karena ia telah menang lomba membaca syair. Piala itu pun diletakkan sangat hati-hati di dalam tasnya. Lana pu melangkahkan kaki menuju rumahnya. Lana tidak berani menunjukkan piala yang ia dapatkan kepada kedua orang tuanya. Ia teringat dengan anyaman yang pernah ia buat dan dibuang oleh ayahnya. Ayahnya tidak suka sekali dengan Lana karena  membuat anyaman itu adalah pekerjaan perempuan. Lana pun berfikir ia takut piala ini juga di buang oleh ayahnya. Kakinya pun berjalan sangat pelan untuk memasuki rumahnya. Setelah Lana masuk, tiba-tiba Abangya pun tidak sengaja menyenggol Lana. Lana pun terjatuh dan tas yang berisi piala itupun langung terbalik. Melihat tasnya itu jatuh, Lana pun langsung mengeluarkan air matanya di depan kedua orangtuanya dan abangnnya
“ Kenapa sih kamu menangis? Baru tersenggol sedikit saja sudah mengeluarkan air mata. Sadar dong dek. . kamu itu anak laki-laki, anak laki-laki itu tidak boleh nangis, cengeng kamu seperti perempuan saja. Kenapa ya nama kamu itu lana? Seharusnya nama yang cocok buat kamu itu bukan lana tetapi luna. Hahahaha,” ejek abangnya pada Lana.
Ayahnya yang sedang menonton TV di ruang keluarga langsung menyambung pembicaraan lana dan abangnya.
“ Ia, kenapa kamu ini nak, ayah tidak suka punya anak cengeng seperti mu, kamu itu cowok nak,” seru ayahnya kepada Lana.
Lana menangis bukan gara-gara ia kesakitan, tetapi karena pialanya sudah hancur karena terjatuh. Hati Lana pun sangat sakit pada saat itu.
“ Kenapa sih orang di rumah ini tidak ada yang membela aku, tidak ada yang bisa mengerti aku? Memang perempuan saja yang boleh menangis? perempuan saja yang punya perasaan sedih ? Perempuan itu juga manusia kan? Sama seperti aku. Kenapa semua ini harus terjadi padaku?” Ujar Lana berbicara sendiri dengan terengah-engah.
Ia mengikuti banyak perlombaan salah satunya adalah syair, menari, fashion show, dan membuat anyaman. Perlombaan yang Lana ikuti ini semunya mendapat juara dan piala. Piala-pialanya pun sudah banyak di kumpulkan di atas lemarinya. Tetapi ayah dan ibunya sangat tidak suka melihat aktivitas Lana sebagai perempuan. Lana sering bermain dengan teman-teman ceweknya dan sering mengikuti aktivitas perempuan. Tetapi kemauan ayah, ibu dan Abangya itu ingin Lana beraktivitas seperti layaknya anak laki-laki yang gagah. Kedua orang tuanya itu ingin melihat anaknya ikut olimpiade bahasa inggris, mtk dan yang lainnya. Tetapi Lana malah melakukan aktivitas yang bertentangan dengan kemauan kedua orang tuanya.
Keesokan harinya ayahnya di beritahu atasannya untuk pindah tugas keluar kota. Ayah Lana pun memberitahukan kepada anak-anaknya dan istrinya bahwa ayah akan pindah tugas keluar kota di Pekanbaru. hentakan kaki ayahnya pun begitu kuat.
“Ayah mengumpulkan kalian disini karena ada yang ingin ayah beritahu kepada kalian. Ayah dapat kabar dari atasan ayah bahwa ayah akan di pindah tugas keluar kota. Jadi kalian juga harus ikut pindah bersama ayah,” ujar ayahnya kepada keluarganya.
“ Baiklah kalau begitu yah. Kalau ibu sih ikut saja dengan ayah, tetapi ibu tidak tau bagaimana dengan pendapat Putra dan Lana,” Seru ibunya.
“ Aku mau ikut kok yah. . tapi kalau aku ikut, aku tidak mau satu SMP dengan lana, nanti aku malaah di hina lagi disana kalau aku punya adik banci seperti lana. Aduuuh . . tidak terbayang aku,” Kata Putra kepada ayahnya.
Mendengar perkataan Abangnya tadi, hati Lana pun sangat sakit. Ia ingin sekali marah dan menangis pada saat itu, Tetapi perasaan marahnya di pendam di dalam hati. Lana hanya mengeluarkan air mata.
“ Yah, kalau begini aku tidak ikut saja dengan kalian, aku ingin disini saja bersama bibi,” jawab lana dengan nada sedih
“ Ha? Apa kamu tidak salah nak?” seru ibunya.
“ Tidak bu, aku tetap ingin di sini saja,” seru lana.
“ Sudalah bu, jangan kamu bantah anak itu,” Seru ayahnya.
“ Bagus deh kalau kamu gak ikut, Hahaha,” jawab Abangya sambil tertawa.
Tak terasa waktunya pun telah tiba. Sinar matahari sudah mula-mulai ingin membakar tubuh mereka. Mereka pun segera bersiap-siap menuju mobil dan berangkat ke Pekanbaru. Ibu, Putra dan ayahnya pun juga berpamitan kepada lana dan pembantunya. Perasaan lana pun sangat sedih pada saat itu, tetapi ia berusaha untuk tidak menangis karena takut di hina lagi. Setelah selesai berpamitan, mereka langsung memasuki mobil dan segera berangkat. Kakinya pun bergerak menuju kamarnya dengan hentakan yang sangat kuat. Ia sedih  sekali karena ia tidak sering lagi berjumpa dengan keluarganya. Walaupun mereka sangat mengesalkan, tetapi mereka juga baik sama lana.
Cuaca hari ini sangat bersahabat dengan lana. Kakinya pun bergegas menuju sekolah. Akhirnya lana pun tiba di sekolahan. Ketika bel telah berbunyi, semua anak-anak smp itu masuk ke kelasnya masing-masing. Setelah lana memasuki kelas, gurunya langsung memberitahukan kepada lana, bahwa Dinas Pariwisata mencari duta budaya yang akan dilaksanakan di pekanbaru. Lana ditunjuk oleh gurunya untuk membaca syair, Karena kemarin Lana telah memenangkan lomba syair itu. Setelah berfikir, lana pun setuju untuk mengikuti lomba syair itu. Bu shinta pun langsung memberi surat izin yang harus ditandatangani orang tua lana. Setelah bu shinta memberi surat itu kepada lana, lana pun terfikir sejenak tentang surat itu. Surat itu kan harus ditandatangani oleh orang tua
“ Oh ia, kan ada Pak Ngah ya. Jika tidak ada orangtua, kan boleh wali yang menandatanganinya.Yah, aku minta tanda tangan dengan dia saja,” Seru Lana.
Setelah mata pelajaran selesai. Lana pun bergegas pulang menuju rumah. Lana ingin membujuk Mang Dadang.
“ Pak Ngah. . hm.. mank, aku mau tau dong gimana tanda tangannya Mang Dadang.” Seru lana
“ wah den, Pak Ngah tidak mempunyai tanda tangan,” ujar lana.
“ hah. . tanda tangannya terserah saja mank. Yang penting mamang tanda tangan saja di kertas ini.
“ Okeh den,” Jawab Mang Dadang
Akhirnya Mang Dadang pun menandatangani kertas itu. Mang Dadang tidak tau apa-apa tentang kertas itu. Jadi ia percaya saja dengan apa yang di katakana lana. Keesokan harinya Lana pun segera berangkat kesekolah dan memberikan surat izin orangtua nya yang di tanda tangani Mang Dadang kepada gurunya. Lana pun berlatih dengan serius. Setelah memakan beberapa minggu. Lana pun akhirnya siap untuk bertanding.
Hari yang ditunggu oleh lana itu pun sudah tiba. Lana tampil dengan baik dan sempurna.. Setelah beberapa penampilan di tunjukkan, pengumuman pemenang lomba pun di umumkan. Lana sangat-sangat gugup sekali. Juaranya itu di bacakan dari peringkat ketiga. Setelah peringak kedua di bacakan, lana sudah sangat gugup. Peringkat satu pun di bacakan. Semua peserta lomba juga ikut nervest. Tak disangka dan tak diduga, lana lah pemenang lomba syair itu. Ia berloncat-loncat karena kegirangan. Lana pun meraih piala dan di nobatkan sebagai Duta Budaya oleh Dinas Pariwisata.
Kemenangan yang diraihnya pun telah masuk Koran. Lana tidak menyangka dengan semua ini. Ayahnya yang berada di Pekanbaru tidak sengaja membaca Koran yang didalamnya terdapat berita tentang kemenangan anaknya. Ayahnya betul-betul tidak menyangka bahwa anaknya menang mewakili provinsi riau. Ayahnya langsung bergegas pulang kerumah dan juga membawa untuk memberitahu keluarganya.
“ Bu. . Putra.. kesini sebentar. Ayah ada berita yang membanggakan bagi keluarga kita,” seru ayahnya sambil teriak kesenangan.
“ Ada apa yah,” seru istrnya dan Putra.
“ Ini baca Koran ini. Anak kita menang mewakili provinsi riau ini,lana mendapatkan peringakat pertama. Aku sangat bangga dengan anak kita. Ternyata bakat dia memang di bidang kesenian ya bu. Kita tidak boleh melarangnya. Karena kerja keras lana lah membuat provinsi kita menang,” kata ayahnya menjelaskan.
“ Ia yah, besok kita harus segera pulang untk mengucapkan selamat kepada anak kita,” kata ibunya lana.
Keesokan harinya mereka pun segera pergi. Setelah lama di perjalanan akhirnya mereka sampai dan langsung masuk kerumah.
“ Nak. . ibu minta maaf atas kesalahan ibu selama ini, karena ibu telah meremeh kan kemampuanmu,” ujar ibunya sangat menyesal.
“Ia nak, ayah juga. Maafkan ayah selama ini meremehkan kamu nak. Karena bakat kamu, kamu bisa membawa provinsi ini kedalam kemenangan,” jawab ayahnya dengan tegas.
“ Dek, abg juga minta maaf telah berkata-kata yang tidak sopan dengan kamu. Maaf dek,” kata Abangya dengan mata yang berkaca-kaca.
“ Tidak apa-apa kok ayah, ibu, abang. Jika tidak ada kalian aku juga tidak berhasil seperti ini,” jawab lana.
Mereka semua akhirnya menyadari bahwa anaknya itu mempunyai bakat di bidang seni, dan kemampuan seseorang pun tidak boleh kita larang. Dengan tingkah laku lana yang seperti perempuan itu juga dapat membuahkan hasil bagi dirinya, keluarganya dan provinsi riau.


cerpen ini yang membuat aku juara 3 se-Riau..tapi cerpen nya udah di edit, yang cerpen di atas yang belum di edit.yang udah di edit di plashdisk kawan:)


KARYA: DESY FEBRIANI

Kamis, 10 Maret 2011

Maling cilik yang sukses (CERPEN)

Posted by at 02.12
Ketika pulang dari sekolah SD, nasdir lewat di depan rumah tetangga nya. Lalu ia melihat mangga yang besar dan sudah masak. Di benaknya, ia pun berfikir untuk mengambil mangga itu, Dan membawa pulang mangga tersebut. Lalu ibunya pun bingung, dari mana anak tadi mendapat kan mangga tersebut. Ibu nya pun bertanya kepada anaknya. “ nak, dari mana kamu dapat mangga itu?”. Lalu anaknya pun menjawab “ hm.. bu, mangga ini di beri kan oleh teman saya yang baru pulang dari  Jakarta bu!”. Ibunya pun percaya kepada anaknya.
Lalu, si nasdir pun pergi bermain dengan temannya. Mereka bermain di rumah temannya yang sangat kaya yang bernama krisna. Ketika sedang  asyik bermain, si nasdir menemukan emas di dalam rumah si krisna. Dia langsung mengambil emas tersebut tanpa bertanya kepada orang rumah tersebut. Setelah lama bermain, mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Si nasdir tersebut sangat senang mendapat kan emas tersebut.
Keesokan harinya ia pergi ke sekolah, tiba di kelas teman-temannya bercerita tentang sepeda baru yang ia miliki. Semua teman-temannya memiliki sepeda dan mereka sangat asyik menceritakan tentang kehebatan sepeda nya tersebut. Si  nasdir pun merasa iri dan jengkel kepada teman-temannya. Lalu ketika ia pulang ke rumah, dengan nada yang agak tinggi ia pun meminta kepada ibunya untuk membelikan sepeda untuknya, nasdir pun berkata “bu aku ingin sepeda baru, yang mahal dan yang bagus bu”.ibunya  pun menjawab “ nanti nak, ibu belum punya uang, uang sekolah mu saja belum di bayar nak”. Lalu, karna nasdir sangat kesal, ia pun membentak ibunya sambil menghempas pintu rumahnya, “pokoknya aku mau sekarang bu, aku mau sekarang juga “. Akhirnya nasdir masuk ke dalam kamarnya. Lalu tiba-tiba ia teringat dengan emas yang ia dapat di rumah si krisna. Lalu ia pun  berkata di dalam hati sendiri, “ eh,ia. Kan aku bisa jual emas ini untuk membeli sepeda baru yang mahal dan keren, aku akan menjualnya sekarang” .
Lalu ia pun menjual emas itu kepada tukang emas. Dan uang nya pun lumayan cukup untuk membeli sepeda baru. Dengan semangat 45, ia pun pergi membeli sepeda dengan uang yang telah di dapatnya dari hasil jual emas tersebut. Lalu didapatnya lah sepeda baru yang bagus seperti yang diinginkan nya. Sepedanya pun di bawanya pulang dan di beritahukannya kepada ibunya. Lalu ibunya pun melihat anaknya menggunakan sepeda baru. Ibunya pun bingung dan bertanya kepada anaknya, “nak,dari mana kamu mendapat kan sepeda bagus ini??. Anaknya pun menjawab, “ hah…ibu diam saja, ibu tidak perlu tau aku dapat sepeda ini dari mana, yang penting ibu pikirkan saja bagaimana membayar uang sekolah ku”. Ibunya menjawab “ ya TUHAN nak , kamu ini ada apa, kurang ngajar sekali kamu sekarang!”. Nasdir pun kembali menjawab,” hah.., ibu saja tidak bisa membayar kan uang sekolah ku, apalagi untuk membeli sepeda sebagus dan semahal ini, mana sanggup ibu”. Si nasdir pun langsung buru-buru pergi untuk bermain, karna ia sudah muak kepada ibunya yang miskin itu.
Keesokan harinya, dengan bangga dan gagah ia pergi kesekolah untuk mempamerkan sepeda nya yang baru itu, kawan-kawan nya pun bingung dan tercengang dengan sepeda baru yang nasdir miliki. Ketika si nasdir masuk kedalam kelas, ia pun tidak sengaja mendengar perkataan si krisna, bahwa ibunya kehilangan sebuah emas. Ketika ibunya mau pergi kekondangan, baru ibunya sadar bahwa emasnya sudah tidak ada. Itu menjadi perbincangan di dalam kelas si nasdir. Lalu,krisna dan teman-teman lainyya pergi ke kantin untuk belanja sebentar. Sedangkan si nasdir, di kelas dan kelihatan sangat takut dan gugup. Tanpa di sadari, ternyata salah satu teman krisna yang ikut bermain pada saat itu melihat, bahwa yang mencuri emas tersebut adalah nasdir. Dan ia pun segera memberitahu kapada si krisna, bahwa si nasdir yang mencuri emas tersebut. Krisna pun sangat terkejut dengan pemberitahuan temannya. Dengan buru-buru, si krisna langsung menemui si nasdir dan menanyainya, “nasdir, apa betul kamu yang mencuri emas ibu ku??, kamu jujur aja deh!”. Nasdir pun menjawab,” a..a..apaan sih kamu, jangan sembarang nuduh dong, walaupun aku ini miskin, tetapi aku tidak mencuri”. Lalu si krisna pun menjawab ,” kamu jangan bohong deh, kalau kamu bohong kamu akan kena balak sama tuhan. Nasdir pun menjawab,”oke, siapa takut”.
Ketika pulang sekolah, krisna dan ibunya pergi jalan-jalan kepasar. Tiba-tiba krisna dan ibunya melihat emas yang hilang itu. Mereka pun pergi ketempat orang jual emas tersebut. Krisna dan ibunya pun bertanya kepada orang yang jual emas tersebut,” bang, emas ini siapa yang menjual nya ke abang?”. Tukang emas pun menjawab, “ kalau tidak salah bu, seorang anak kecil bu, anak sd, sekitar 2 hari yang lalu ia menjual emas ini kepada saya bu”. Ibunya pun menjawab,”oh…trima kasih pak”. Lalu krisna pun menceritakan apa yang di kasih tau oleh temannya tadi kepada ibunya . Dan dugaan itu pun tidak salah lagi. Ketika si nasdir sampai di rumah, ia pun sangat bingung dengan apa yang harus di lakukannya sekarang. Tiba-tiba lampu pun mati, karna ada konsleting listrik. Jadi mereka menggunakan lampu colok (lampu dinding). Ketika si nasdir ingin menyiapkan buku-buku pelajaran pada malam hari, tidak di sengaja lampu tersebut  tersengggol olehnya. Dan kamarnya pun terlihat api yang sangat besar. Ia pun sangat takut. Dengan cepat ia memberitahu ibunya. Mereka pun meminta tolong kepada warga di sana dan pemadam kebakaran. Tetapi kenyataannya rumahnya pun sudah rata dengan tanah, dan sudah habis di makan api. Si nasdir pun meminta maaf kepada ibunya sambil menangis.
Pada saat itu juga, krisna pun lewat di depan rumah nasdir. Ia langsung pergi untuk mellihat kejadian di sana. Si nasdir pun malu kepada krisna, dan ia pun langsung meminta maaf kepada ibu krisna dan krisna. Ibunya pun juga ikut meminta maaf atas apa yang dilakukan anaknya. Karna si krisna dan ibunya merasa kasihan kepada nasdir, ia pun membantu nasdir dengan cara menyuruh nasdir tinggal di rumahnya. Tetap, sifat nasdir pun tidak juga berubah-rubah, hingga mereka merasa tidak sanggup memelihara nasdir.Tidak sampai satu bulan ia kehilangan rumahnya, tiba-tiba ibunya pun meninggal karna terlanggar oleh mobil. Si nasdir pun sangat sangat menyesal karna tidak mau mendengar apa kata ibunya, dan ia pun termakan dengan kata-katanya sendiri. Ibu krisna pun akhirnya mengangkat nasdir menjadi anak angkatnya dan semua biaya sekolah nasdir di tanggung oleh ibu krisna . Atas kejadian ini, ia pun mulai sadar dengan apa yang ia lakukan. Dan ia sekarang menjadi anak yang baik, pintar, dan patuh kepada orang tua angkatnya.  Nasdir berjanji akan membahagiakan ibunya dan akan mengganti emas tersebut jika kelak ia sudah sukses.  
15 tahun sudah ia lewati. Apa yang di katakana nasdir kepada ibu angkatnya terkabul, ia berhasil membelikkan emas yang baru dan mahal kepada ibu angkatnya. Dan ia pun menjadi pengusaha sukses. Ia dapat membeli rumah mewah dan mobil atas hasil jerih payah nya sendiri. Dan ia pun telah mendapatkan istri yang cantik dan baik kepadanya, dan mereka pun mempunyai momongan. Bahagialah si nasdir, dan kejadian waktu kecilnya pun tak akan ia lupakan. Sedangkan si krisna ia pun juga sama seperti nasdir, ia menjadi pengusaha sukses dan dapat membahagiakan orang tuanya.


FRIEND...SORRY EA KALO CERITA NYA TAK NYAMBUNG.:(SOALNYA BARU-BARU INGIN MENCOBA MEMBUAT CERPEN..TOLONG DI MAKLUMI EA...:D..DI KOMENT EA...:)

KARYA : DESY FEBRIANI

DESAKU, KEBAHAGIAANKU (CERPEN)

Posted by at 02.08
 (CERPENSepulang sekolah, Sefti yang sangat lelah ini mendengar seBuah kabar  yang mengejutkan dari kedua orang tuanya . Ia diharuskan untuk pindah kedesa tempat Kakeknya , karena orang tuanya yang pindah tugas di luar negeri. Sefti tidak setuju dengan keputusan kedua orang tuanya. Sefti pun membantah kedua orang tuanya. Karna keputusan orang tuanya sudah Bulat, Sefti pun tidak bisa membantah omongan kedua orang tuanya yang keras kepala.
            Keesokan harinya orang tuanya pun mengantarkan Sefti ke rumah Kakeknya. Selama di perjalanan, Sefti memasang muka yang cemberut. Karena ia sangat tidak mau tinggalkan di rumah Kakeknya. Yang ada di beNak Sefti pada saat itu adalah rumah yang sangat rusuh, jelek, kotor, dan semacamnya. Ia berfikir, ia tidak akan betah di rumah Kakeknya itu. Setelah lama di perjalanan, mereka pun sampai di rumah Kakeknya yang di desa itu. Ketika Sefti turun dari mobil, ia pun terkejut dengan keadaan rumah Kakeknya, dan itu sama seperti yang telah ia bayangkan. Kakeknya menyamBut kedatangan aNak dan Cucunya. Sementara kedua orang tuanya masuk, ia masih melihat-lihat keadaan rumah Kakeknya itu. “silahkan duduk” kata Kakeknya kepada aNak dan Cucunya. Setelah mereka duduk, kedua orang tuanya pun menjelaskan kenapa Anaknya pindah dan di titipkan disini. Tidak hanya karena orang tuanya pindah tugas  keluar negeri tetapi orang tuanya juga ingin merubah sikap Anaknya yang manja dan agar Anaknya bisa bermanfaat bagi orang lain. Mendengar cerita kedua orang tua Sefti itu, Kakeknya pun mau untuk merawat Sefti. Setelah asyik bercerita, kedua orang tua Sefti pun pulang dan juga bersiap-siap untuk pergi keluar negeri. “Nak, kamu hati-hati ia di sini, kamu harus menjadi aNak yang pintar, dan bisa membantu Kakek di rumah”,kata Ibunya. “betul itu Nak, kamu harus bisa berguna bagi Kakek mu, dan jika kami kembali menjemputmu, kami berharap sifat kamu berubah menjadi baik Nak” kata Ayahnya. “tapi Yah Bu…aku tidak suka dengan tempat ini, aku belum bisa terbiasa Bu, Ayah…”jawab Sefti dengan dongkol . “maka dari itu, kamu harus bisa terbiasa mulai sekarang Nak.”jawab Ayahnya. “heem.. ya sudahlah”jawab Sefti dengan nada sedih. “ya sudah..Ibu dan Ayah pergi dulu…hati-hati Nak” kata Ibunya.
            Setelah Ibunya pergi, Kakeknya menyuruh Sefti untuk masuk ke rumah Kakeknya. “ ayo Cu, masuk kedalam rumah Kakek”,kata Kakeknya dengan nada bahagia. Akhirnya Sefti pun sangat terpaksa untuk masuk kedalam rumah Kakeknya itu. Kakeknya menunjukkan kamar untuk di tempati oleh Sefti. Ketika Sefti melihat dan masuk kedalam kamar nya, ia sangat terkejut dengan kondisi kamar yang di anggapnya mirip sebagai kandang kambing. Ya, jika di desa-desa, mereka mengguNakan atap yang di Buat dari daun nipah , dan tempat tidur yang d Buat dari rotan. “aku tidak mau tidur di tempat tidur yang mirip kandang kambing ini, ini bau, jelek kek, aku tidak mau”. Kata Sefti dengan nada sangat marah. “Nak, ini di desa, Bukan di kota, semua kamar tidur di desa ini ya keadaannya sama Nak, ini desa”. Hati Sefti pun sangat jengkel sekali. Mau tidak mau ia harus tidur di tempat itu. “haah, apaan sih ini, aku tidak suka dengan desa ini, aku benci Ibu, aku benci Ayah, mengapa mereka tidak adil kepada ku?”kata Sefti berbicara di dalam hati.


Keesokan harinya, Kakeknya mengantarkan Sefti ke sekolah barunya itu. Sefti sudah memikirkan bagaimana keadaan sekolah yang bakalan dia tempati. Ketika sampai di sekolah baru nya itu, ia pun sangat-sangat terkejut dengan keadaan sekolahnya itu yang baginya sangat sudah tidak layak di huninya. Tapi bagi aNak-aNak di situ, itu Bukan suatu masalah baginya, walaupun sekolahnya sudah rusak seperti itu, tetapi mereka juga masih bisa mendapatkan ilmu yang tinggi seperti aNak-aNak kota dari guru-gurunya. Ketika ia masuk ke kelas nya itu, ia tidak bisa menemukan teman yang akan menjadi teman belajarnya bersama, karna Sefti melihat teman-temannya itu tidak ada yang sepintar dirinya. Ia pun mulai memperkenalkan diri kepada teman-teman barunya itu. Sefti merasa sangat bangga dan sombong dengan kepintarannya. Ketika bel keluar main yang di pukul oleh gurunya berBunyi, aNak-aNak desa itu Bukannya belanja kekantin, tetapi mereka semua langsung menyerBu lapangan bola yang lumayan besar. Sefti pun heran dengan kelakuan aNak-aNak desa itu. Setelah ia perhatikan, ternyata aNak-aNak itu memainkan bola kaki. Tetapi bola kaki yang di mainkan aNak-aNak ini beda dari bola kaki aNak-aNak kota itu. ANak desa ini bermain bola kaki yang di seBut dengan bola api. Yaitu Buah yang ada di pohon dekat sekolahnya. Sefti pun heran dengan apa yang di lakukan aNak-aNak itu. Dia merasa bahwa aNak-aNak desa itu sangatlah bodoh memainkan bola api itu. Karna baginya memainkan bola api itu sangat membahayakan kaki si pemain. Dia merasa sangat kesepian dan sangat bosan tinggal di desa ini.karena di desa ini tidak ada permainan seperti di kota-kota yang biasanya Sefti mainkan. Salah satu temannya itu menghampiri Sefti untuk main bersamanya. Tetapi Sefti pun menolak. “sef, ayo main bersama kami, asyik loh sef”,kata Bagas temannya Sefti. “hm..sorry ya…aku gak suka permainan aNak desa kayak kamu, apaan tuh main bola api gitu, ah,,,gak deh, lebih baik aku di kelas aja, sana kamu.” Kata Sefti kepada Bagas dengan nada yang sombong. Sefti pun langsung masuk ke kelas dan meninggalkan aNak-aNak desa itu. Sefti pun berkhayal. “aduuh,apakah aku harus menjalani semua ini, kegiatan ini, hari-hariku yang Buruk ini,?”.
            Akhirnya bel yang kedua kalinya pun berBunyi. Waktunya pulang untuk aNak-aNak SMP itu. Sefti pun bergegas pulang ke rumah Kakeknya karna ia sudah sangat lapar. Ketika ia sampai di rumah ia langsung memBuka tudung makanan yang ada di atas meja makan. Ketika Sefti melihat lauk yang ada di atas meja itu, ia pun terkejut, karna hanya ada tahu, tempe,dan sambal saja. Ia pun memanggil Kakeknya. “Kakek,kek..”  kata Sefti dengan nada marah. ”ia Cu..sebentar, ada apa?? Kenapa kamu berteriak-teriak?? Jawab Kakeknya. “kek, ini gak salah apa?? Mana lauknya lagi kek, kok Cuma tahu sama tempe doang??? Kata Sefti. “ memang itu lauk yang biasa Kakek masak Cu”jawab Kakeknya. “hah…pusing aku kek,semua nya serba kekurangan” kata Sefti. Karna Sefti sudah sangat-sangat lapar, dia pun akhirnya terpaksa menghabiskan makan-makanan itu, karna dia nanti akan selalu memakan makanan itu juga. Karna ia mengingat pesan Ibu dan Ayahnya agar tidak boleh menyusahkan orang lain, terpaksa ia langsung menCuci piringnya. Ia  pun merasa sangat capek, padahal hanya menCuci dua Buah piring saja.
            Setelah selesai menCuci piring. Ia pun langsung pergi ke luar rumah untuk melihat-lihat keadaan di desa. Tak lama ia jalan, Sefti melihat lapangan bola dan langsung lari menuju lapangan bola itu. Ternyata yang dilihatnya murid-murid SMP yang sekarang menjadi temannya itu bermain bola api itu lagi. Sefti pun melihat mereka yang sedang bermain bola api itu. Ketika Sefti sedang asyik-asyik nya menonton permainan bola api itu, Bagas temannya pun melihat Sefti di lapangan bola itu dan langsung menarik Sefti untuk bermain bola api itu. Karna Sefti juga penasaran bagaimana cara bermainnya, akhirnya ia memutuskan bermain besama aNak-aNak desa itu. Ternyata permainan bola api itu sangat mengasyikkan bagi aNak orang desa itu dan Sefti.  Sefti merasa permainan bola api itu lebih menantang dari pada sekedar main bola kaki biasa. Setelah lama mereka bermain, akhirnya mereka menyelesaikan permainan bola api itu. Dan tampaknya si Sefti sangat bahagia dan sudah mulai terbiasa dengan permainan dan keadaan di desa tempat ia tinggal itu.
            Hari-hari pun ia lewati dengan bahagia bersama teman-teman SMP nya yang baru dan bersama Kakeknya. Dan ia pun berhasil memperbaiki sifatnya yang manja itu menjadi mandiri. Ia mulai mengerjakan tugas Kakeknya sendiri. Ia pun tetap menjadi aNak yang pintar di kalangan desa itu. Memang terBukti, Sefti aNak yang hebat,pintar dan berprilaku baik sekarang. Kakeknya pun sangat heran dan terkejut dengan perubahan Cucunya itu. Tetapi Kakeknya sangat bahagia dapat merubah prilaku Cucunya yang semula sangat manja dan Nakal.
            satu tahun telah ia lewati dengan keadaan di desa itu . karna orang tuanya lagi lIbur, mereka berdua ingin pergi ke desa tempat aNak nya di titipkan kepada Kakeknya, dan  juga untuk melepaskan rindu orang tuanya. Akhirnya mereka pun segera pergi ke desa itu. Maghrib pun tiba, Ayah dan Ibunya pun telah sampai di rumah Kakeknya. Ibu dan Ayahnya sengaja tidak memberitahu Anaknya bahwa mereka akan datang, karna mereka berdua ingin memberi kejutan kepada Anaknya. Ibunya pun segera menggedor pintu rumah Kakeknya itu. Karna Kakeknya sedang berada di belakang, jadi Sefti yang memBuka pintu rumah nya. Ketika Sefti memBuka pintu ia pun terkejut, “ ha…Ayah…Ibu…”Sefti pun langsung spontan memeluk kedua Ayah dan Ibunya, karna ia sangat rindu bagaikan bintang yang tak pernah bertemu Bulan. Dengan sangat erat sekali, Sefti memeluk kedua orang tuanya. “ Nak, Ibu sangat rindu sama kamu,Nak.” Kata Ibunya dengan. “ia Nak, Ayah juga sangat kangen sekali sama kamu, Kata Ayahnya dengan nada bahagia. “ aku juga Bu,..Yah”. jawab Sefti. Sefti pun menyuruh Ibu dan Ayahnya masuk. Rencana kedua orang tuanya kepada Sefti adalah ingin membawa Sefti pulang kembali  kerumahnya. Sefti pun datang  menghampiri Ibu dan Ayahnya, “Bu..Yah…silahkan minum segelas air putih ini, aku tau kalian sangat lelah selama di perjalanan, minum dulu Yah..Bu”. “makasih Nak” jawab Ayahnya. Ayah dan Ibunya pun sangat bingung mellihat Anaknya berbicara sangat sopan kepadanya, karna ia tidak pernah mendengar selama tinggal di kota ucapan-ucapan sesopan tadi.
Dengan percaya diri Ibunya pun langsung bicara tentang keputusannya tadi yang ingin membawa Sefti pulang. “hm..Nak…Ibu dan Ayah sudah sepakat untuk membawa kamu pulang kembali ke kota, Ibu tau kamu tidak betah tinggal di desa ini, kamu belum terbiasa, Ibu tidak tega Nak” kata Ibunya. “betul itu Nak. Maafkan kami Nak, kami telah berBuat ini kepadamu”.kata Ayahnya. Sefti pun hanya senyum-senyum kepada orang tuanya. “Bu..Yah,, maaf sebelumnya, pertama kali Ibu dan Ayahnya memutuskan untuk aku tinggal disini, aku memang sangat tidak setuju. Aku pun menjalaninya sangat terpaksa Bu..Yah…aku sangat tidak betah dengan keadaan ini. Tetapi itu dulu, sekarang aku sudah sangat senang tinggal di desa ini, teman-temanku semuanya sangat baik, makanannya pun sangat eNak walaupun hanya tau dan tempe, tetapi aku sangat sudah betah disni Bu. Aku sudah mulai bisa mandiri Bu,,Yah. Maaf ya Bu, aku tidak bisa untuk pindah lagi, kau sudah sangat senang untuk tinggal disini”kata Anaknya. Setelah Anaknya menjelaskan kepada Ayah dan Ibunya, tiba-tiba Kakeknya datang dari kamar dan segera menyamBung pembicaraan Cucunya tadi. “ betul sekali apa yang di katakan mu itu. Dia sangat mandiri sekarang dan dia pun juga lebih hormat kepada orang lain. Beda sekali dengan pertama kali ia datang ke desa ini. Biarlah dulu dia berteman dengan lngkungan ini, aku yakin, jika dia pindah kekota lagi, ia tidak akan pernah berubah seperti yang sekarang ini, ia akan berubah menjadi aNak seperti dulu” kata Kakeknya. Orang tua Sefti pun terdiam sejeNak mendengarkan penjelasan dari Anaknya dan Kakeknya. Tentu orang tuanya pun tidak mau menjerumuskan ananknya ke prilaku yang sangat tidak di sukai orang lain. “ ya sudah…karna Ibu melihat kamu sudah mulai berubah, Ibu akan tetap meninggalkanmua di desa ini, Ibu yakin kamu akan menjadi orang yang sangat sukses nantinya” kata Ibunya kepada Sefti dengan sangat yakin. “ia Nak, Ayah juga berfikiran sama seperti Ibumu, Ayah akan tetap menuruti keinginanmu yang ingin tinggal di desa ini, tetap kamu juga harus bisa berguna di desa ini dengan kemampuan yang kamu miliki Nak”kata Ayahnya kepada Sefti. “makasih banyak Ayah..Ibu atas dukungan kalian. Aku janju akan berusaha untuk menuruti apa yang kalian inginkan. Makasih banyak ya Bu..Yah..sudah mengikuti kemauan ku kali ini. Aku janji akan membahagiakan kalian semua Ayah, Ibu dan Kakek” kata Sefti. “baiklah Nak…Ibu dan Ayah menginap ya satu hari saja untuk menghilangkan lelah ini.”kata Ibunya. “okelah Bu,ini kamar Ibu”sambil membawa barang-barang bawaan Ibunya dan menaruhnya di dalam kamar. Mereka pun melakukan makan malam di atas meja makan yang tidak begitu bagus. Sefti pun lalu membawa lauk-lauknya di atas meja makan. Ibunya pun terkejut dengan lauk yang di sediakan Anaknya yaitu tahu,tempe,sambal dan ikan asin.
Mereka semua pun memakan makanan yang ada di atas meja itu. “Bu ..Ayah, hanya ini makanan yang bisa Sefti siapkan. Tapi di coba aja dulu, ini beda dengan masakan di kota, masakan di desa lebih mantap deh Bu Yah,,ayo Bu Yah,,makan donk”kata Sefti. “baiklah Nak”jawab Ayah dan Ibunya. Ketika Ibunya dan Ayahnya memakan masakkany Sefti mereka pun memuji-muji Sefti dan bangga kepada aNak laki-laki satu-satunya. “waah Nak, kamu sangat hebat sekali memasak Nak, Ibu tidak tau kalau kamu bisa memasak seeNak ini” kata Ibunya. “hahaha..ia donk Bu.. Sefti gitu loh,,Sefti kan udah di ajarkan dengan Kakek, lagian teman-teman ku di desa ini tidak ada yang tidak pandai memasa, malu dong”kata Sefti. Mereka sangat sIbuk berbincang-bincang. Akhirnya siap juga mereka makan. Sefti pun langsung memberes-bereskan piring dan gelas dan segera menCucinya. Melihat Anaknya seperti itu, Ibu dan Ayahnya pun sangat-sangat bangga mempunyai aNak seperti Sefti dan tidak menyangka bahwa Anaknya akan berubah sangat derastis. Karna kedua orang tuanya sangat lelah, mereka berdua pun akhirya tidur dengan nyenyak. Dan Sefti pun selesai mengerjakan tugasnya dan tugas-tugas sekolahnya. Sefti pun akhirnya tidur kekamarnya.
Matahari pun bangun dari tidurnya dan mencerahkan dunia. Kedua orang tua Sefti bangun,Kakeknya pun juga bangun karna ayam yang berkokok. Ternyata Sefti sudah lebih dahulu bangun untuk bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Dan Sefti pun juga sempat memasakkan orang tuany dan Kakeknya lauk. Sefti pun salam kepada orang tuanya dan Kakeknya karna ingin berangkat kesekolah. “Ibu,Ayah,Kakek, Sefti berangkat ke sekolah dulu ya,assalamualaikum”kata Sefti, “walaikum salam, hati-hati Nak” jawab kedua orang tuanya dan Kakeknya. Seperti biasa Sefti menjalankan aktivitasnya sebagai pelaja. Waktu pun telah cepat berlalu, Sefti pun sudah pulang kerumahnya. Biasanya setelah pulang sekolah ia bermain bola api, tetapi karena ada orang tuanya ia langsung pulang karna kedua orang tuanya akan pulang. Sesampainya di rumah, Sefti pun langsung menyampari Ibunya, dan ternyata Ibunya pun sudah bersiap-siap untuk pulang. Tetapi, sebelum pulang Ibunya ingin melihat Anaknya terlebih dahulu bermain bola api. Kakeknya yang bercerita tentang semua yang dilakukan Sefti sepulang sekolah. Dengan senang hati Sefti menunjukkan permainannya itu,karna Sefti sangat menggemari permainan itu. Sefti pun langsung pergi kelapangan.
Ketika sampai di lapangan, ia langsung bermain bola api itu. Ibu dan Ayahnya pun sangat terkejut dengan permainan Anaknya itu. Setelah lama bermain, Ibunya pun memanggil Sefti karna kedua orang tuanya pun akan segera pulang. Awan pun mulai mendung, itulah yang menggambarkan wajah Sefti ketika kedua orang tuanya mau pulang. Sefti pun memeluk kedua orang tuanya dengan sangat erat. Sebelum pergi, Ayah dan Ibunya berpesan kepada Sefti. “Nak, kami akan kembali pulang ke luar negri. Lain kali jika kami lIburan, kami past akan pergi ke rumah Kakekmu. Dan kamu jangan lupa, kamu harus menjadi aNak yang berbakti,berguna bagi semua orang dan jangan suka menyusahkan orang lain. Jika kamu betul-betul mematuhi perinth Ibu ini, Ibu yakin pasti kamu akan sukses percayalah Nak”. “baiklah Bu, Sefti akan mendengar kan pesan Ibu dan Ayah, Hati-hati ya Bu” kedua orang tuanya pun pergi meninggalkan desa itu. Sefti pun pulang kerumah bersama Kakeknya. Ketika sampai di rumah, ia sholat dan berdo’a kepada ALLAH, semoga ia menjadi orang yang di inginkan oleh kedua orang tuanya.


CERPEN yang kedua
KARYA: DESY FEBRIANI.SORRY KALAU JELEK EA!!.NAMANYA JUGA BARU PERMULAAN :D
© Thirty One is powered by Blogger - Template designed by Stramaxon - Best SEO Template