(CERPENSepulang sekolah, Sefti yang sangat lelah ini mendengar seBuah kabar yang mengejutkan dari kedua orang tuanya . Ia diharuskan untuk pindah kedesa tempat Kakeknya , karena orang tuanya yang pindah tugas di luar negeri. Sefti tidak setuju dengan keputusan kedua orang tuanya. Sefti pun membantah kedua orang tuanya. Karna keputusan orang tuanya sudah Bulat, Sefti pun tidak bisa membantah omongan kedua orang tuanya yang keras kepala.
Keesokan harinya orang tuanya pun mengantarkan Sefti ke rumah Kakeknya. Selama di perjalanan, Sefti memasang muka yang cemberut. Karena ia sangat tidak mau tinggalkan di rumah Kakeknya. Yang ada di beNak Sefti pada saat itu adalah rumah yang sangat rusuh, jelek, kotor, dan semacamnya. Ia berfikir, ia tidak akan betah di rumah Kakeknya itu. Setelah lama di perjalanan, mereka pun sampai di rumah Kakeknya yang di desa itu. Ketika Sefti turun dari mobil, ia pun terkejut dengan keadaan rumah Kakeknya, dan itu sama seperti yang telah ia bayangkan. Kakeknya menyamBut kedatangan aNak dan Cucunya. Sementara kedua orang tuanya masuk, ia masih melihat-lihat keadaan rumah Kakeknya itu. “silahkan duduk” kata Kakeknya kepada aNak dan Cucunya. Setelah mereka duduk, kedua orang tuanya pun menjelaskan kenapa Anaknya pindah dan di titipkan disini. Tidak hanya karena orang tuanya pindah tugas keluar negeri tetapi orang tuanya juga ingin merubah sikap Anaknya yang manja dan agar Anaknya bisa bermanfaat bagi orang lain. Mendengar cerita kedua orang tua Sefti itu, Kakeknya pun mau untuk merawat Sefti. Setelah asyik bercerita, kedua orang tua Sefti pun pulang dan juga bersiap-siap untuk pergi keluar negeri. “Nak, kamu hati-hati ia di sini, kamu harus menjadi aNak yang pintar, dan bisa membantu Kakek di rumah”,kata Ibunya. “betul itu Nak, kamu harus bisa berguna bagi Kakek mu, dan jika kami kembali menjemputmu, kami berharap sifat kamu berubah menjadi baik Nak” kata Ayahnya. “tapi Yah Bu…aku tidak suka dengan tempat ini, aku belum bisa terbiasa Bu, Ayah…”jawab Sefti dengan dongkol . “maka dari itu, kamu harus bisa terbiasa mulai sekarang Nak.”jawab Ayahnya. “heem.. ya sudahlah”jawab Sefti dengan nada sedih. “ya sudah..Ibu dan Ayah pergi dulu…hati-hati Nak” kata Ibunya.
Setelah Ibunya pergi, Kakeknya menyuruh Sefti untuk masuk ke rumah Kakeknya. “ ayo Cu, masuk kedalam rumah Kakek”,kata Kakeknya dengan nada bahagia. Akhirnya Sefti pun sangat terpaksa untuk masuk kedalam rumah Kakeknya itu. Kakeknya menunjukkan kamar untuk di tempati oleh Sefti. Ketika Sefti melihat dan masuk kedalam kamar nya, ia sangat terkejut dengan kondisi kamar yang di anggapnya mirip sebagai kandang kambing. Ya, jika di desa-desa, mereka mengguNakan atap yang di Buat dari daun nipah , dan tempat tidur yang d Buat dari rotan. “aku tidak mau tidur di tempat tidur yang mirip kandang kambing ini, ini bau, jelek kek, aku tidak mau”. Kata Sefti dengan nada sangat marah. “Nak, ini di desa, Bukan di kota, semua kamar tidur di desa ini ya keadaannya sama Nak, ini desa”. Hati Sefti pun sangat jengkel sekali. Mau tidak mau ia harus tidur di tempat itu. “haah, apaan sih ini, aku tidak suka dengan desa ini, aku benci Ibu, aku benci Ayah, mengapa mereka tidak adil kepada ku?”kata Sefti berbicara di dalam hati.
Keesokan harinya, Kakeknya mengantarkan Sefti ke sekolah barunya itu. Sefti sudah memikirkan bagaimana keadaan sekolah yang bakalan dia tempati. Ketika sampai di sekolah baru nya itu, ia pun sangat-sangat terkejut dengan keadaan sekolahnya itu yang baginya sangat sudah tidak layak di huninya. Tapi bagi aNak-aNak di situ, itu Bukan suatu masalah baginya, walaupun sekolahnya sudah rusak seperti itu, tetapi mereka juga masih bisa mendapatkan ilmu yang tinggi seperti aNak-aNak kota dari guru-gurunya. Ketika ia masuk ke kelas nya itu, ia tidak bisa menemukan teman yang akan menjadi teman belajarnya bersama, karna Sefti melihat teman-temannya itu tidak ada yang sepintar dirinya. Ia pun mulai memperkenalkan diri kepada teman-teman barunya itu. Sefti merasa sangat bangga dan sombong dengan kepintarannya. Ketika bel keluar main yang di pukul oleh gurunya berBunyi, aNak-aNak desa itu Bukannya belanja kekantin, tetapi mereka semua langsung menyerBu lapangan bola yang lumayan besar. Sefti pun heran dengan kelakuan aNak-aNak desa itu. Setelah ia perhatikan, ternyata aNak-aNak itu memainkan bola kaki. Tetapi bola kaki yang di mainkan aNak-aNak ini beda dari bola kaki aNak-aNak kota itu. ANak desa ini bermain bola kaki yang di seBut dengan bola api. Yaitu Buah yang ada di pohon dekat sekolahnya. Sefti pun heran dengan apa yang di lakukan aNak-aNak itu. Dia merasa bahwa aNak-aNak desa itu sangatlah bodoh memainkan bola api itu. Karna baginya memainkan bola api itu sangat membahayakan kaki si pemain. Dia merasa sangat kesepian dan sangat bosan tinggal di desa ini.karena di desa ini tidak ada permainan seperti di kota-kota yang biasanya Sefti mainkan. Salah satu temannya itu menghampiri Sefti untuk main bersamanya. Tetapi Sefti pun menolak. “sef, ayo main bersama kami, asyik loh sef”,kata Bagas temannya Sefti. “hm..sorry ya…aku gak suka permainan aNak desa kayak kamu, apaan tuh main bola api gitu, ah,,,gak deh, lebih baik aku di kelas aja, sana kamu.” Kata Sefti kepada Bagas dengan nada yang sombong. Sefti pun langsung masuk ke kelas dan meninggalkan aNak-aNak desa itu. Sefti pun berkhayal. “aduuh,apakah aku harus menjalani semua ini, kegiatan ini, hari-hariku yang Buruk ini,?”.
Akhirnya bel yang kedua kalinya pun berBunyi. Waktunya pulang untuk aNak-aNak SMP itu. Sefti pun bergegas pulang ke rumah Kakeknya karna ia sudah sangat lapar. Ketika ia sampai di rumah ia langsung memBuka tudung makanan yang ada di atas meja makan. Ketika Sefti melihat lauk yang ada di atas meja itu, ia pun terkejut, karna hanya ada tahu, tempe,dan sambal saja. Ia pun memanggil Kakeknya. “Kakek,kek..” kata Sefti dengan nada marah. ”ia Cu..sebentar, ada apa?? Kenapa kamu berteriak-teriak?? Jawab Kakeknya. “kek, ini gak salah apa?? Mana lauknya lagi kek, kok Cuma tahu sama tempe doang??? Kata Sefti. “ memang itu lauk yang biasa Kakek masak Cu”jawab Kakeknya. “hah…pusing aku kek,semua nya serba kekurangan” kata Sefti. Karna Sefti sudah sangat-sangat lapar, dia pun akhirnya terpaksa menghabiskan makan-makanan itu, karna dia nanti akan selalu memakan makanan itu juga. Karna ia mengingat pesan Ibu dan Ayahnya agar tidak boleh menyusahkan orang lain, terpaksa ia langsung menCuci piringnya. Ia pun merasa sangat capek, padahal hanya menCuci dua Buah piring saja.
Setelah selesai menCuci piring. Ia pun langsung pergi ke luar rumah untuk melihat-lihat keadaan di desa. Tak lama ia jalan, Sefti melihat lapangan bola dan langsung lari menuju lapangan bola itu. Ternyata yang dilihatnya murid-murid SMP yang sekarang menjadi temannya itu bermain bola api itu lagi. Sefti pun melihat mereka yang sedang bermain bola api itu. Ketika Sefti sedang asyik-asyik nya menonton permainan bola api itu, Bagas temannya pun melihat Sefti di lapangan bola itu dan langsung menarik Sefti untuk bermain bola api itu. Karna Sefti juga penasaran bagaimana cara bermainnya, akhirnya ia memutuskan bermain besama aNak-aNak desa itu. Ternyata permainan bola api itu sangat mengasyikkan bagi aNak orang desa itu dan Sefti. Sefti merasa permainan bola api itu lebih menantang dari pada sekedar main bola kaki biasa. Setelah lama mereka bermain, akhirnya mereka menyelesaikan permainan bola api itu. Dan tampaknya si Sefti sangat bahagia dan sudah mulai terbiasa dengan permainan dan keadaan di desa tempat ia tinggal itu.
Hari-hari pun ia lewati dengan bahagia bersama teman-teman SMP nya yang baru dan bersama Kakeknya. Dan ia pun berhasil memperbaiki sifatnya yang manja itu menjadi mandiri. Ia mulai mengerjakan tugas Kakeknya sendiri. Ia pun tetap menjadi aNak yang pintar di kalangan desa itu. Memang terBukti, Sefti aNak yang hebat,pintar dan berprilaku baik sekarang. Kakeknya pun sangat heran dan terkejut dengan perubahan Cucunya itu. Tetapi Kakeknya sangat bahagia dapat merubah prilaku Cucunya yang semula sangat manja dan Nakal.
satu tahun telah ia lewati dengan keadaan di desa itu . karna orang tuanya lagi lIbur, mereka berdua ingin pergi ke desa tempat aNak nya di titipkan kepada Kakeknya, dan juga untuk melepaskan rindu orang tuanya. Akhirnya mereka pun segera pergi ke desa itu. Maghrib pun tiba, Ayah dan Ibunya pun telah sampai di rumah Kakeknya. Ibu dan Ayahnya sengaja tidak memberitahu Anaknya bahwa mereka akan datang, karna mereka berdua ingin memberi kejutan kepada Anaknya. Ibunya pun segera menggedor pintu rumah Kakeknya itu. Karna Kakeknya sedang berada di belakang, jadi Sefti yang memBuka pintu rumah nya. Ketika Sefti memBuka pintu ia pun terkejut, “ ha…Ayah…Ibu…”Sefti pun langsung spontan memeluk kedua Ayah dan Ibunya, karna ia sangat rindu bagaikan bintang yang tak pernah bertemu Bulan. Dengan sangat erat sekali, Sefti memeluk kedua orang tuanya. “ Nak, Ibu sangat rindu sama kamu,Nak.” Kata Ibunya dengan. “ia Nak, Ayah juga sangat kangen sekali sama kamu, Kata Ayahnya dengan nada bahagia. “ aku juga Bu,..Yah”. jawab Sefti. Sefti pun menyuruh Ibu dan Ayahnya masuk. Rencana kedua orang tuanya kepada Sefti adalah ingin membawa Sefti pulang kembali kerumahnya. Sefti pun datang menghampiri Ibu dan Ayahnya, “Bu..Yah…silahkan minum segelas air putih ini, aku tau kalian sangat lelah selama di perjalanan, minum dulu Yah..Bu”. “makasih Nak” jawab Ayahnya. Ayah dan Ibunya pun sangat bingung mellihat Anaknya berbicara sangat sopan kepadanya, karna ia tidak pernah mendengar selama tinggal di kota ucapan-ucapan sesopan tadi.
Dengan percaya diri Ibunya pun langsung bicara tentang keputusannya tadi yang ingin membawa Sefti pulang. “hm..Nak…Ibu dan Ayah sudah sepakat untuk membawa kamu pulang kembali ke kota, Ibu tau kamu tidak betah tinggal di desa ini, kamu belum terbiasa, Ibu tidak tega Nak” kata Ibunya. “betul itu Nak. Maafkan kami Nak, kami telah berBuat ini kepadamu”.kata Ayahnya. Sefti pun hanya senyum-senyum kepada orang tuanya. “Bu..Yah,, maaf sebelumnya, pertama kali Ibu dan Ayahnya memutuskan untuk aku tinggal disini, aku memang sangat tidak setuju. Aku pun menjalaninya sangat terpaksa Bu..Yah…aku sangat tidak betah dengan keadaan ini. Tetapi itu dulu, sekarang aku sudah sangat senang tinggal di desa ini, teman-temanku semuanya sangat baik, makanannya pun sangat eNak walaupun hanya tau dan tempe, tetapi aku sangat sudah betah disni Bu. Aku sudah mulai bisa mandiri Bu,,Yah. Maaf ya Bu, aku tidak bisa untuk pindah lagi, kau sudah sangat senang untuk tinggal disini”kata Anaknya. Setelah Anaknya menjelaskan kepada Ayah dan Ibunya, tiba-tiba Kakeknya datang dari kamar dan segera menyamBung pembicaraan Cucunya tadi. “ betul sekali apa yang di katakan mu itu. Dia sangat mandiri sekarang dan dia pun juga lebih hormat kepada orang lain. Beda sekali dengan pertama kali ia datang ke desa ini. Biarlah dulu dia berteman dengan lngkungan ini, aku yakin, jika dia pindah kekota lagi, ia tidak akan pernah berubah seperti yang sekarang ini, ia akan berubah menjadi aNak seperti dulu” kata Kakeknya. Orang tua Sefti pun terdiam sejeNak mendengarkan penjelasan dari Anaknya dan Kakeknya. Tentu orang tuanya pun tidak mau menjerumuskan ananknya ke prilaku yang sangat tidak di sukai orang lain. “ ya sudah…karna Ibu melihat kamu sudah mulai berubah, Ibu akan tetap meninggalkanmua di desa ini, Ibu yakin kamu akan menjadi orang yang sangat sukses nantinya” kata Ibunya kepada Sefti dengan sangat yakin. “ia Nak, Ayah juga berfikiran sama seperti Ibumu, Ayah akan tetap menuruti keinginanmu yang ingin tinggal di desa ini, tetap kamu juga harus bisa berguna di desa ini dengan kemampuan yang kamu miliki Nak”kata Ayahnya kepada Sefti. “makasih banyak Ayah..Ibu atas dukungan kalian. Aku janju akan berusaha untuk menuruti apa yang kalian inginkan. Makasih banyak ya Bu..Yah..sudah mengikuti kemauan ku kali ini. Aku janji akan membahagiakan kalian semua Ayah, Ibu dan Kakek” kata Sefti. “baiklah Nak…Ibu dan Ayah menginap ya satu hari saja untuk menghilangkan lelah ini.”kata Ibunya. “okelah Bu,ini kamar Ibu”sambil membawa barang-barang bawaan Ibunya dan menaruhnya di dalam kamar. Mereka pun melakukan makan malam di atas meja makan yang tidak begitu bagus. Sefti pun lalu membawa lauk-lauknya di atas meja makan. Ibunya pun terkejut dengan lauk yang di sediakan Anaknya yaitu tahu,tempe,sambal dan ikan asin.
Mereka semua pun memakan makanan yang ada di atas meja itu. “Bu ..Ayah, hanya ini makanan yang bisa Sefti siapkan. Tapi di coba aja dulu, ini beda dengan masakan di kota, masakan di desa lebih mantap deh Bu Yah,,ayo Bu Yah,,makan donk”kata Sefti. “baiklah Nak”jawab Ayah dan Ibunya. Ketika Ibunya dan Ayahnya memakan masakkany Sefti mereka pun memuji-muji Sefti dan bangga kepada aNak laki-laki satu-satunya. “waah Nak, kamu sangat hebat sekali memasak Nak, Ibu tidak tau kalau kamu bisa memasak seeNak ini” kata Ibunya. “hahaha..ia donk Bu.. Sefti gitu loh,,Sefti kan udah di ajarkan dengan Kakek, lagian teman-teman ku di desa ini tidak ada yang tidak pandai memasa, malu dong”kata Sefti. Mereka sangat sIbuk berbincang-bincang. Akhirnya siap juga mereka makan. Sefti pun langsung memberes-bereskan piring dan gelas dan segera menCucinya. Melihat Anaknya seperti itu, Ibu dan Ayahnya pun sangat-sangat bangga mempunyai aNak seperti Sefti dan tidak menyangka bahwa Anaknya akan berubah sangat derastis. Karna kedua orang tuanya sangat lelah, mereka berdua pun akhirya tidur dengan nyenyak. Dan Sefti pun selesai mengerjakan tugasnya dan tugas-tugas sekolahnya. Sefti pun akhirnya tidur kekamarnya.
Matahari pun bangun dari tidurnya dan mencerahkan dunia. Kedua orang tua Sefti bangun,Kakeknya pun juga bangun karna ayam yang berkokok. Ternyata Sefti sudah lebih dahulu bangun untuk bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Dan Sefti pun juga sempat memasakkan orang tuany dan Kakeknya lauk. Sefti pun salam kepada orang tuanya dan Kakeknya karna ingin berangkat kesekolah. “Ibu,Ayah,Kakek, Sefti berangkat ke sekolah dulu ya,assalamualaikum”kata Sefti, “walaikum salam, hati-hati Nak” jawab kedua orang tuanya dan Kakeknya. Seperti biasa Sefti menjalankan aktivitasnya sebagai pelaja. Waktu pun telah cepat berlalu, Sefti pun sudah pulang kerumahnya. Biasanya setelah pulang sekolah ia bermain bola api, tetapi karena ada orang tuanya ia langsung pulang karna kedua orang tuanya akan pulang. Sesampainya di rumah, Sefti pun langsung menyampari Ibunya, dan ternyata Ibunya pun sudah bersiap-siap untuk pulang. Tetapi, sebelum pulang Ibunya ingin melihat Anaknya terlebih dahulu bermain bola api. Kakeknya yang bercerita tentang semua yang dilakukan Sefti sepulang sekolah. Dengan senang hati Sefti menunjukkan permainannya itu,karna Sefti sangat menggemari permainan itu. Sefti pun langsung pergi kelapangan.
Ketika sampai di lapangan, ia langsung bermain bola api itu. Ibu dan Ayahnya pun sangat terkejut dengan permainan Anaknya itu. Setelah lama bermain, Ibunya pun memanggil Sefti karna kedua orang tuanya pun akan segera pulang. Awan pun mulai mendung, itulah yang menggambarkan wajah Sefti ketika kedua orang tuanya mau pulang. Sefti pun memeluk kedua orang tuanya dengan sangat erat. Sebelum pergi, Ayah dan Ibunya berpesan kepada Sefti. “Nak, kami akan kembali pulang ke luar negri. Lain kali jika kami lIburan, kami past akan pergi ke rumah Kakekmu. Dan kamu jangan lupa, kamu harus menjadi aNak yang berbakti,berguna bagi semua orang dan jangan suka menyusahkan orang lain. Jika kamu betul-betul mematuhi perinth Ibu ini, Ibu yakin pasti kamu akan sukses percayalah Nak”. “baiklah Bu, Sefti akan mendengar kan pesan Ibu dan Ayah, Hati-hati ya Bu” kedua orang tuanya pun pergi meninggalkan desa itu. Sefti pun pulang kerumah bersama Kakeknya. Ketika sampai di rumah, ia sholat dan berdo’a kepada ALLAH, semoga ia menjadi orang yang di inginkan oleh kedua orang tuanya.
CERPEN yang kedua
KARYA: DESY FEBRIANI.SORRY KALAU JELEK EA!!.NAMANYA JUGA BARU PERMULAAN :D